Allah, Cahaya Langit dan Bumi

Siapapun akan mengatakan bahwa dalam kegelapan kita sangat membutuhkan "penerang", dian atau pelita. Dalam gelap-gulita: ketika bintang-gemintang berkilauan, sang purnama muncul dengan sinarnya merupakan nikmat besar bagi para nelayan di tengah laut. Bukan hanya menambah keindahan alam semesta, juga menandakan bahwa Allah mengerti kebutuhan hamba-Nya: kegelapan itu harus diberi penerang.
"Atau seperti gelap-gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak: yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap-gulita yang tindih-bertindih, apabila ia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya. Dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah ia mempunyai cahaya sedikitpun." (Qs. An-Nur [24]: 40).

Kepada Siapa Rasa Takut Harus Dituju?

Suatu hari ada seorang teman bercerita kepada saya bahwa dia bolos kuliah hanya karena berjanji menemui seorang dosen. Alasannya karena dia tidak mau ambil resiko terlambat menemui dosen tersebut. Yang terpikir olehnya bila dia terlambat, maka dia akan dimarahi, dan urusan yang tadinya bisa lancar bakal dipersulit oleh dosen tersebut. Teman saya ini lantas berkata, betapa rendahnya dia, karena kepada dosen yang sama-sama manusia saja dia bisa takut, sedangkan kepada Allah yang telah menciptakan dirinya dan juga dosen tersebut tidak demikian rasa takut itu.
Sering sekali dia melalaikan panggilan-Nya, mengundur-undur waktu menghadap-Nya,

Informasi Terpenting itu Bernama Hidayah

Pada sebuah pengajian taklim bulanan, seorang mu'alaf berkebangsaan Jerman bertutur mengenai pengalamannya mengapa ia masuk Islam. Suatu saat ia sekelebat melihat jamaah shalat di sebuah masjid. Tatkala imam melakukan sedikit kesalahan dalam membaca surat, seketika beberapa orang makmum membetulkan bacaannya. Yang membuatnya terkesan, Al-Quran yang relatif begitu tebal mampu dihafal oleh banyak muslim. Ia berpikir, mungkin itu sebabnya mengapa Al-Quran masih otentik hingga sekarang. Makmum pun bisa mengoreksi apa yang diucapkan imam. Ini jauh berbeda dengan situasi kebaktian di gereja, di mana segala ucapan pastor dianggap selalu benar. Ia lalu ingin tahu, apa sebenarnya Islam itu. Di matanya Islam itu indah, di mana setiap muslim bisa saling menasehati, dan kebenaran itu hanya berasal dari satu sumber yaitu dari Allah SWT melalui Al-Quran dan Hadits.

Suplemen Penguat Jiwa

Ada saat-saat yang paling membahagiakan bagi seorang pekerja atau karyawan. Yaitu saat di mana kita akan menerima gaji, setelah sebulan penuh bekerja. Dan yang kedua adalah saat kita akan libur, setelah penat kerja dalam satu minggu atau lebih. Saya sering mengalami hal seperti itu.
Maka, ketika mendengar bahwa hari Minggu saya akan libur, setelah berbulan-bulan tidak ada kesempatan libur, saya merasa sangat gembira. Rencana-rencana segera saya susun, sebelum hari H tiba.
Pagi hari, saya berniat untuk minum kopi di sebuah restoran Indonesia. Rasanya lidah ini sudah sangat rindu dengan masakan khas daerah saya. Siang sedikit, saya berencana untuk silaturrahmi dengan seorang

Dia Ada

Rasanya tidak perlu lagi diragukan, betapa Allah Maha Pendengar Doa. Tapi seringkah kita mendengar, betapa banyak orang yang tak lagi percaya akan keberadaan-Nya, disebabkan oleh beberapa pinta mereka yang belum lagi dikabulkan? Orang-orang yang begitu berani menyatakan bahwa mereka tak lagi percaya adanya Rabb Sang Pemilik segala, rasanya kian banyak bermunculan. Bahkan ketidakpercayaan mereka itu dibuktikan dengan menghadirkan sejumlah 'guru spiritual' atau 'orang pintar' yang lantas mereka ikuti segala perkataan dan perintahnya. Bermacam alasan dikemukakan. Bahwa mereka hanya mencari ketenangan, dan menempuh jalan tersebut sebagai alternatif untuk mempercepat doa dikabulkan. Toh hal itu dilakukan hanya sebagai ikhtiar, begitu mungkin alasannya.

Bukti Tak Terbantahkan dari Tanah Haram

"Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Luqman : 16). Begitulah salah satu pesan Luqman, yang telah dianugerahi Allah SWT sebagian hikmah-Nya, kepada anaknya yang bernama Tharan.
Pesannya singkat namun isinya begitu mendalam. Intinya, bahwa Allah SWT sudah menetapkan sistem balasan (reward and punishment) pada setiap perbuatan manusia secara sangat akurat, adil, dan pasti akan terjadi. Persoalan ini mungkin tampak biasa saja, namun bila kita menyimak cerita pengalaman seseorang pada saat melaksanakan haji di

Sodaqohnya Lisan

Sore tadi ketika pulang dari kantor aku berkaca, melihat pakaian dan jilbab yang kukenakan. Menurutku tidak ada yang aneh dari pakaianku, setelan atas bawah, kerudung putih, tas dan sepatu hitam. Tetapi mengapa tadi siang seorang temanku berkomentar lain?
"Baju ini juga harusnya disingkirkan, gak bagus dilihat, kedombrangan," ujarnya.
Deg. Aku kaget. Ini bukan pertama kalinya dia mengomentari penampilanku, bukan hanya baju yang kena, tetapi sepatuku juga pernah dikomentarin. Hanya karena aku tidak pernah memakai sepatu hak dengan model-model (yang menurutnya) model anak muda.

Pekerjaan yang Tidak Terlihat

Mungkin bukan hanya sekedar tidak menyenangkan. Bahkan dapat dikatakan stressfull ketika kita dihadapkan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan keterampilan dan bidang keilmuan yang kita miliki dan harapkan. Demikianlah realitas bekerja sebagai PNS (di Departemen Keuangan), yang kadang tidaklah seindah yang dibayangkan dan tidak sehebat namanya. Meski khalayak melihatnya sebagai sesuatu yang prestatif dan prestisius, namun tidak selalu demikian bagi mereka yang merasakannya. Apalagi bagi anak-anak muda yang biasanya membutuhkan tantangan atas kapasitas berpikir dan semangat idealisme mereka.
Lantas bagaimana jika kita dihadapkan pada kondisi tidak ideal yang tidak kita inginkan itu? Ditempatkan di kepegawaian, tata usaha atau unit teknis namun sepi pekerjaan?

Kita Diuji pada Titik Terlemah

Saya mempunyai seorang teman yang istimewa. Keistimewaannya bukan pada penampilan fisik yang menawan atau karir yang menjulang, namun pada kemampuannya memahami hikmah dari berbagai peristiwa yang dialaminya. Sepintas, kisah hidupnya terlihat tak berbeda dengan manusia pada umumnya, namun Allah SWT memberikan karunia kecerdasan mata hati padanya untuk dapat mengambil pelajaran yang bisa mencerahkan dirinya maupun rekan-rekan yang ia ceritakan.
Kisah hidupnya kali ini juga demikian. Suatu pagi ia pergi ke sebuah toko untuk membeli roti dan susu bagi kedua anaknya. Letak tokonya agak jauh dari rumah, sehingga perlu waktu sekitar 15 menit berjalan kaki. Ia menyusuri sepanjang jalan setapak yang masih sepi sambil merenung. Terngiang kembali ingatannya pada taushiyah pak Ustadz di pengajian akhir pekan lalu:

Satu Mulut dan Dua Telinga

 Momo. Demikian ia memanggil dirinya, dan demikian juga kemudian orang-orang pun memanggilnya. Seorang bocah kecil sebatang kara yang tak diketahui dari mana asalnya. Sesosok makhluk lusuh mungil yang tinggal di balik tembok sebuah bangunan yang nyaris runtuh. Dia tak banyak bicara. Pun ia tak mengganggu para warga. Ia hanya ada di sana, sendirian saja. Kadang kala pergi ke perkampungan penduduk desa untuk mendapatkan makanan yang ia tukar dengan tenaga.
Kondisinya membuat para penduduk desa iba. Maka warga penghuni kampung itu berbondong-bondong mengunjunginya. Mereka menawarkan kehidupan yang lebih layak dan wajar kepada Momo kecil. Hidup bersama warga di perkampungan, diasuh bergilir dari satu rumah warga ke rumah lainnya, mendapat makanan, tempat tinggal dan pakaian yang layak.

Meredam Pemborosan

Kemarin sore saya dapat sms dari keponakan. Dia bilang mau pinjam uang untuk membeli susu anaknya. Dia dan suaminya menikah tiga tahun lalu. Kini mereka tengah mengasuh seorang anak, satu setengah tahun umurnya. Hari itu jatah dari mertuanya terlambat. Maklum, dua duanya masih belum bekerja, meski sudah ratusan surat lamaran kerja melayang.
Saya katakan tidak usah hutang. Saya berusaha memahami, cari kerja memang sulit. Padahal keduanya sarjana. Sang suami lulusan ekonomi, sang istri sastra Inggris. Lapangan kerja saat ini sepertinya lebih jahat dari pada ibu tiri. Begitulah mungkin kesan mereka.

Dia Ada

Rasanya tidak perlu lagi diragukan, betapa Allah Maha Pendengar Doa. Tapi seringkah kita mendengar, betapa banyak orang yang tak lagi percaya akan keberadaan-Nya, disebabkan oleh beberapa pinta mereka yang belum lagi dikabulkan? Orang-orang yang begitu berani menyatakan bahwa mereka tak lagi percaya adanya Rabb Sang Pemilik segala, rasanya kian banyak bermunculan. Bahkan ketidakpercayaan mereka itu dibuktikan dengan menghadirkan sejumlah 'guru spiritual' atau 'orang pintar' yang lantas mereka ikuti segala perkataan dan perintahnya. Bermacam alasan dikemukakan. Bahwa mereka hanya mencari ketenangan, dan menempuh jalan tersebut sebagai alternatif untuk mempercepat doa dikabulkan. Toh hal itu dilakukan hanya sebagai ikhtiar, begitu mungkin alasannya.

Pertolongan Allah itu Dekat

Hidup di Jerman bisa jadi memang tak seindah dan sebetah di tanah air, betapapun sulit dan semrawutnya tanah air tercintaku. Namun, ternyata hidup di Jerman lebih 'manusiawi' dan lebih 'nyaman' daripada hidup di Rusia.
Adalah kedatangan seorang sahabat saat silaturahmi ke kediamanku di Aachen, Jerman yang menyebabkan aku harus selalu menggenapkan rasa syukur atas kehidupanku saat ini di Aachen, Jerman.
Betapa tidak, menjadi orang asing di Rusia bukanlah pilihan yang menyenangkan. Orang Rusia sangat dingin terhadap orang asing, sedingin suhu yang menggigit kala winter mengepung Rusia. Jarang orang Rusia yang mau tersenyum dengan orang asing.

Belajar Bersabar

Saat ini, di Jepang sedang musim panas. Suhu udara rata-rata, baik di siang maupun malam hari hampir selalu diatas 30 derajat celcius, bahkan kadang mencapai angka antara 36 hingga 40 derajat. Terik matahari begitu menyengat, memanggang kulit hingga mengubah warna jadi kecoklatan.
Saat-saat demikian, menjadi ujian tersendiri bagi saya sebagai seorang muslimah yang ingin selalu mempertahankan diri tampil dengan busana yang rapat membalut seluruh tubuh. Model busana yang dianggap melawan arus oleh kebanyakan orang Jepang, hingga membuat aneka pertanyaan hinggap ketika kami saling bertemu. "Atsu kunai desuka?" (apa tidak panas?), "Kenapa pakai pakaian seperti ini?" dan sebagainya.

Mencangkul Ladang Ibadah

Beberapa hari ini saya banyak sekali mendapatkan nasehat kebaikan dari kawan-kawan saya. Bukan lewat lisan mereka, tapi lewat barang-barang yang diberikan untuk saya. Seorang teman sekerja, menyodorkan buku sangat berharga kepada saya agar dibaca. Sebuah buku tentang perjalanan hidup para kekasih Allah. Begitu buku saya terima, saya langsung membukanya secara acak. Tiba-tiba mata saya terhenti dan membaca sebait kalimat dari Isa bin Maryam. Kata Isa kepada ibunya, "Ibu, dunia ini suatu saat akan musnah. Sedang yang kekal adalah akhirat. Mari kita beribadah sebaik-baiknya kepada Allah."
Ajakan Isa, tentu tidak sebatas kepada ibunya, akan tetapi sudah pasti kepada kita semua. Termasuk saya yang entah seberapa prestasi ibadahnya kepada Allah SWT. Buku tersebut saya simpan dahulu, belum saya baca semuanya. Tentu saja isinya mengandung banyak sekali mutiara kehidupan.
Hari berikutnya seorang teman yang lain, menyodorkan saya beberapa VCD, yang kesemuanya berisi lagu-lagu rohani. Ada Nashida Ria, dan juga beberapa shalawat dari Jam'iyyah Shalawat Surabaya. Dari benda-benda tersebut juga bayak sekali pesan dan nasehat agar kami selalu tunduk sujud dalam pengabdian kepada sang Maha Agung.
Bersyukur sekali saya pada-Nya. Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba yang dalam perjalanan hidupnya tentu masih sangat banyak daki-daki dosanya ini. Yang totalitas hidupnya belum bisa seperti para kekasih Allah. Dari kawan-kawan saya itulah Allah menitipkan pesan dan nasehat agar saya lebih serius lagi dalam beribadah.
Lebih bersyukur lagi saya lahir sudah dalam keadaan muslim. Itu artinya saya sudah dalam lingkup sebuah keyakinan atau agama yang sempurna dan sangat diridhoi oleh Allah SWT. Yang dari wujud kesempurnaannya itulah, setiap langkah, tindakan, denyut nadi, helaan napas, jika kita niatkan lillahi ta'ala, sudah termasuk dalam kategori ibadah kepada-Nya.
Hari-hari ini, saya adalah satu dari sekian juta anak bangsa, yang sedang mengais rezeki bukan di negerinya sendiri. Sehingga secara otomatis saya harus patuh kepada aturan negeri tempat saya bekerja. Dan secara otomatis juga karena saya bekerja ikut orang atau majikan, sudah barang tentu saya harus ikut aturannya. Yang dalam pelaksanaannya sangat sering kurang sejalan dengan hati dan nurani saya. Seperti memberi waktu kerja yang di luar batas kewajaran. Akhirnya sebagai manusia biasa sering sekali saya terjebak dalam hal 'mengeluh' dengan keadaan.
Kembali saya bercermin kepada diri sendiri sebagai seorang muslim. Sebagai seorang hamba Allah yang telah disodori ladang pahala maha luas oleh sang pembuat kehidupan. Dan ladang itu adalah aktivitas kita sehari-hari. Dari membuang sisa makanan di sela-sela gigi yang sangat ringan di pagi hari, sampai bekerja seharian penuh, misalnya. Seandainya setiap saat ladang itu saya cangkul, tentu akan panen yang tiada habisnya.
Maka, ketika suatu hari, saya bangun pukul tiga dini hari, untuk memulai sebuah pekerjaan, saya mencoba belajar untuk sekuat mungkin saya niatkan beribadah pada-Nya. Sebab kalau semata-mata hanya karena mengikuti aturan majikan, betapa sakitnya hati ini. Di saat orang-orang masih lelap tidur, saya harus berakrab ria dengan air. Dan di sela-sela hati saya terucap sebuah doa, "Ya Allah semoga pahala pekerjaan ini Kau samakan dengan pahalanya para kekasih-Mu yang sedang munajat ditengah tahajjud malam ini."
Dan ketika suatu hari saya menolong pekerjaan beberapa teman, karena mereka minta bantuan saya, saya pun melaksanakannya dengan baik. Walaupun di ujung pekerjaan itu, saya mendapat marah yang begitu besar dari majikan saya. Sedang teman saya tenang-tenang saja seolah tak punya dosa. Walaupun-ibaratnya-ia telah memukul saya, dengan tongkat pertolongan yang saya berikan. Dalam hati saya merintih pada-Nya, "Ya Allah, semoga semua ini menggugurkan dosa-dosa saya."
Maka dalam merenda hari-hari di negeri orang, sekuat tenaga saya terus berlatih untuk terus mengabdi pada-Nya. Entah pekerjaan apapun yang sedang saya laksanakan. Dengan berniat seperti itu saya meyakini akan mendapat balasan baik dari Allah SWT. Tentu selama pekerjaan saya sesuai dan selaras dengan aturan-Nya. Ternyata sedikit demi sedikit makin saya rasakan, bahwa pekerjaan seberat apapun akan semakin ringan. Dan kemalasan juga makin bisa saya atasi. Karena diikuti keyakinan bahwa saya tidak mungkin akan rugi jika saya niatkan untuk mengabdi pada-Nya. Dan itu semua sudah sangat selaras dengan firman-Nya dalam Al-Qur'an.
"Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Adz Dzariat 56)
Paling tidak dengan niat beribadah, saya bisa meminimalisasi keluhan. Walaupun pada dasarnya mengeluh itu manusiawi. Atau paling tidak saya bisa sedikit belajar mengubah keluhan dengan istighfar, atau bentuk dzikir lainnya. Sehingga saya bisa terus mencangkul ladang ibadah yang terbentang sangat luas ini. Seluas bumi dan langit itu sendiri. Sebab kata Nabi: Dunia ini adalah ladang akhirat.
Dan akhir-akhir ini, saya memang sedang tertarik sekali dengan sebait kalimat yang tertulis pada 'kata pengantar' terjemah kitab Minhajul Abidin karya Imam al-Ghazali, bahwa: "Ibadah adalah buah dari ilmu, faedah dari umur, hasil usaha hamba-hamba Allah yang kuat, barang berharga dari para kekasih Allah, tujuan dari orang-orang yang berhimmah, syiar dari golongan terhormat, pekerjaan bagi orang-orang yang berkata jujur, pilihan orang-orang yang waspada, dan jalan menuju surga."
Seandainya, mulai detik ini segala aktivitas saya tidak saya niatkan untuk mengabdi pada-Nya, tentu betapa ruginya saya. Betapa malangnya hidup saya. Dan tentu saja saya tidak akan ikut memanen hasilnya kelak di Alam Abadi.

Mo Limo

Masih ingat dengan “Mo Limo”? Umat Islam Indonesia adalah daerah “Mo Limo” itu. Dua kata ini begitu akrab di telinga kita. Ia adalah produk dan ide Raden Rahmat alias Sunan Ampel. Meskipun sejatinya, ia adalah produk Islam. Namun ia begitu familiar bagi Sunan Ampel. Istilah “Mo Limo” ini kemudian ia jadikan sebagai senjata dakwahnya, khususnya kepada para santrinya.
Lalu bagaimana dengan gaung “Mo Limo” saat ini? Rasanya gaungnya masih terasa. Namun sayang, telinga orang sudah banyak “budek”; tidak mau perduli dengan “Mo Limo”. Akhirnya banyak yang melanggarnya. Yah, sekedar menuliskan dan mengingatkan kembali, rasanya “Mo Limo” perlu disiarkan dan disebarkan kembali.