Meredam Pemborosan

Kemarin sore saya dapat sms dari keponakan. Dia bilang mau pinjam uang untuk membeli susu anaknya. Dia dan suaminya menikah tiga tahun lalu. Kini mereka tengah mengasuh seorang anak, satu setengah tahun umurnya. Hari itu jatah dari mertuanya terlambat. Maklum, dua duanya masih belum bekerja, meski sudah ratusan surat lamaran kerja melayang.
Saya katakan tidak usah hutang. Saya berusaha memahami, cari kerja memang sulit. Padahal keduanya sarjana. Sang suami lulusan ekonomi, sang istri sastra Inggris. Lapangan kerja saat ini sepertinya lebih jahat dari pada ibu tiri. Begitulah mungkin kesan mereka.

Ketika saya menelepon ibunya, bukan bermaksud menceritakan masalahnya, ternyata sudah tahu persoalan anaknya. Beliau bilang, lain kali jangan dilayani kalau mau hutang. Biar anaknya tahu, bagaimana harus hidup hemat di tengah sulitnya ekonomi dan mencari kerja ini.
Yang saya kemudian kurang bisa mengerti adalah, kalau rumah saja sekarang ndompleng, semua kebutuhan masih harus disuplai oleh mertua, bayar air dan listrik pun disubsidi, bagaimana cara mereka hidup hemat?
Ketika saya berada di Sulawesi Selatan, saya sempat berkunjung ke sebuah Sekolah Perawat Kesehatan di kota Pare-Pare. Kepala Sekolahnya seorang Belanda, Sr. Joanna namanya. Yang sangat berkesan dari kunjungan tersebut adalah bukan karena kepala sekolahnya orang asing, namun bagaimana cara beliau tersebut berhemat.
Kertas-kertas yang sudah dipakai di kantor, tidak dibuang. Kalau halaman di balik kertas tersebut masih kosong, dimanfaatkan lagi. Atau, dipotong kecil-kecil kemudian digunakan sebagai notes.
Budaya hemat di kalangan orang-orang Kristiani semacam Sr. Joanna ternyata juga diterapkan di tempat bekas saya bekerja dulu. Sebuah rumah sakit milik Yayasan Katolik di kota Malang. Bukan hanya masalah kertas saja. Air, listrik, pakaian, makanan, alat-alat rumah tangga, hingga yang paling berperan adalah manusianya sendiri. Semuanya menjadi sasaran hidup hemat.
Tahun-tahun terakhir ini, kita, umat Islam di Indonesia, sangat menderita secara finansial. Saya baca di sebuah harian di Jawa Tengah, kota Semarang, 40% penduduknya dilanda kemiskinan. Penyakit kekurangan gizi, yang dulu, zaman kami masih sering sarapan Karak (nasi basi yang sudah dikeringkan), penyakit tersebut hanya bisa sebatas telinga. Kini, sesudah bangsa ini enam puluh tahun merdeka, busung lapar jadi pemandangan sehari-hari di belahan timur Indonesia.
Konon pemerintah mengalokasikan dana 11 milyar rupiah, untuk mengatasi kasus tersebut. Ironisnya, ada dana sekitar 13 milyar rupiah malah untuk membangun rumah pejabat tertinggi di sana. Astaghfirullah.
Dalam waktu dekat ini, tunjangan anggota DPR juga mau digenjot. Dalam waktu dekat ini, 50 anggota DPR akan bertandang, jalan-jalan ke luar negeri. Ya Allah, dalam waktu dekat ini, bisnis apa lagi yang akan mereka lakukan melebihi pentingnya menyelamatkan nyawa-nyawa umat-Mu?
Kalau agama lain mengajarkan gaya hidup hemat. Ajaran Islam sebenarnya jauh lebih dekat dengan budaya itu. Al-Qur'an menyebutkan, Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW melarang kita untuk bersikap boros (Al Israa': 26). Karena pemborosan adalah sahabat setan (Al Israa': 27).
Hadist-hadist juga banyak yang meriwayatkan, bagaimana Rasulullah SAW, kerabat dekat, serta sahabat-sahabat beliau, memegang erat prinsip hidup ini. Meski beberapa sahabat Rasulullah SAW ada yang kaya raya, misalnya Utsman bin Affan (r.a), namun sebagian besar sahabat beliau SAW amat miskin. Yang kaya pun, begitu pemurah sifatnya. Dalam sejarahnya, Utsman bin Affan, pernah tidak tanggung-tanggung, menyumbangkan puluhan ribu unta untuk kaum muslimin. Padahal harga unta untuk ukuran sekarang ini di Timur-Tengah, per ekor nya, lebih dari harga Toyota Land Cruiser!
Umar bin Abdul Aziz, tokoh besar Islam lainnya (717-720 M), dalam sebuah buku Great Personalities in Islam (Azimabadi, 2000), dikisahkan, beliau menyuruh istrinya menyerahkan seluruh perhiasan. Namun ketika sang isteri nampaknya keberatan, beliau berkata, "Pilih saya, atau perhiasan itu?"
Bau parfum istana pun beliau hindari. Menyalakan lentera istana, hanya jika dibutuhkan saat kerja. Melihat demikian, kaum ulama istana pada waktu itu, dibikin malu terhadap diri mereka sendiri.
Pemimpin-pemimpin kita? Mengajak mengenakan baju Batik saja sudah dianggap sebagai penghematan. Memulai lift pada tingkat 3 saja sudah dibesar-besarkan di media massa. Tapi, di pihak lain, BBM jadi langka; banyak anak-anak sekolah di Aceh tidak lulus sekolah; korupsi menjalar di mana-mana. Malahan Departemen Agama tanpa malu-malu "memakan" duit rakyat.
Setiap hari, pagi, siang, sore, hingga malam hari, di depan gedung tempat kami tinggal, selalu saya temui orang-orang Iran, yang kemungkinan besar orang-orang kapal, membongkar-bongkar tempat sampah yang magang di sana. Mulanya saya jengkel sekali melihat perilaku orang-orang ini, karena sampah-sampah yang sudah diletakkan rapi di dalamnya, diacak-acak oleh mereka.
Tetapi sesudah mengetahui betapa susahnya orang-orang yang dihimpit oleh kesulitan ekonomi, termasuk keponakan saya, jadi bertanya-tanya sekiranya sampah-sampah di depan rumah tampak 'rapi'. Ke mana orang-orang ini? Apakah mereka sudah tidak lagi menemukan sesuatu yang 'berharga' diantara tumpukan sampah-sampah tersebut?
Untuk berbuat kebajikan, kita tidak perlu melihat kasus-kasus penderitaan orang-orang yang tertimpa tsunami di Aceh, atau gempa bumi di Nias. Kita juga tidak perlu melihat korban banjir di Blitar Selatan serta gempa bumi di Nabire beberapa bulan yang lalu. Apalagi harus ke Nusa Tenggara sana untuk melihat dari dekat korban kurang gizi. Dengan mencoba menghemat pengeluaran yang tidak perlu, itu sudah baik sekali.
Rasulullah Muhammad SAW jika mengambil wudhu, tidak lebih dari satu kendi air yang dibutuhkan. Sementara kita kalau mencuci tangan saja, air begitu deras mengalir sambil mengobrol. Apalagi jika kita berwudhu di masjid.
Rasulullah SAW menjahit sendiri pakaian beliau yang sobek. Sementara kita hampir setiap bulan membeli pakaian baru. Kalaupun harus memberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita pilih yang terjelek dan tidak pernah kita gunakan lagi.
Rasulullah SAW tidak makan kecuali jika beliau lapar. Sementara kita selalu berlebihan dalam belanja kebutuhan makanan yang sebetulnya tidak perlu. Akibatnya, jika tidak digunakan hingga batas waktunya, akhirnya kita buang.
Kita biarkan peralatan elektronik kita, televisi, tape recorder, AC, kipas angin dan lain-lainnya dihidupkan, padahal kita tidak membutuhkan. Sementara betapa banyak orang-orang di belahan bumi lain tidak bisa mengenyam nikmatnya hidup dengan fasilitas listrik ini.
Rekening pembayaran listrik di sekolah-sekolah, tinggi sekali, karena dosen-dosen mengenakan setelan jas dan memerlukan AC. Padahal, tidak usah jauh-jauh melihat ke daratan Afrika. Di Trenggalek Selatan saja, orang masih harus beli minyak tanah antri untuk menerangi rumah mereka.
Kita tidak pernah berkeberatan menonton bioskop atau konser yang karcisnya berharga ratusan ribu rupiah. Padahal kita tahu bahwa kepergian kita ke tempat pertunjukan atau bioskop tidak akan dicatat sebagai amal kebajikan. Sementara itu, kita biarkan orang-orang yang meminta bantuan pada kita untuk madrasah dan masjid, atau yayasan yatim piatu. Padahal kita tahu, bahwa amal kebaikan kita akan dicatat dan dilipat-gandakan oleh Allah Ta' ala.
Dalam setiap pengajian kita antusias sekali karena banyak makanan yang bakal tersedia. Setiap pengajian berlangsung, seringkali kita melihat makanan yang begitu berlimpah. Ke mana larinya makanan yang tidak habis kita makan ini? Makna pengajian pun jadi berkurang.
Manusia memang lemah. Grafik keimanan serta kekuatan ibadah kita selalu naik turun. Namun alhamdulillah, masih ada ternyata orang-orang yang mau meredam pemborosan, sebagaimana yang Rasulullah SAW ajarkan.
Ada seorang rekan saya, dosen UGM, hidupnya begitu sederhana. Dosen, di sebuah perguruan tinggi terkenal, kalau mau kaya, bukan hal yang sulit! Namun dia, subhanallah, pesawat televisi saja tidak ingin memiliki. Pakaiannya juga biasa-biasa saja. Perabotan rumah begitu sederhana, melebihi kesederhanaan guru SD.
Suatu hari, ketika karena satu dan lain hal saya tidak bisa mampir ke rumahnya, lewat percakapan dengan istrinya, saya dengar, "Ummi, ternyata rekan saya tidak bisa mampir ke rumah kita. Tolong makanan yang sudah disiapkan dibagikan ke tetangga saja ya?" Subahanallah. Begitu mulianya sikap yang demikian.
Saya percaya, sekiranya kita bisa hemat, meskipun 5% setiap bulannya dari pengeluran kita, kalau itu disumbangkan untuk, tidak usah orang lain, saudara kita sendiri atau orang terdekat kita yang membutuhkan, insyaallah tidak akan ada anak-anak yang jadi korban, yang harus mengemis di perempatan jalan.
Kita tidak juga harus antri menerima air dari PDAM, karena pengeluaran air di masjid terlalu banyak. Kalau kita rela naik kendaraan umum, apalagi bersepeda, ibu-ibu di pelosok Trenggalek Selatan sana insyaallah tidak harus antri membeli minyak tanah. Jika dalam setiap pengajian tidak lagi ada makanan dan minuman, dalam skala besar, bukanlah tidak mungkin, tidak bakal terjadi busung lapar di negeri ini. Dan yang jauh lebih penting lagi adalah: kapan korupsi di negeri ini berhenti?
Hemat tidak sama dengan pelit. Hemat berarti kita memiliki, namun menahan diri dari pengeluaran yang sia-sia atau pemborosan. Sedangkan pelit, kita sejatinya memiliki, akan tetapi enggan memberikan sebagian dari rejeki kita kepada orang lain.
Dengan meredam pemborosan, insyaallah, kita sebernarnya berbuat tiga kebajikan. Yang pertama melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul. Kedua, tidak membuang sesuatu dengan percuma. Dan yang terakhir, beramal buat perbaikan kehidupan orang lain.
Wallahu a'lam

0 komentar:

Posting Komentar