Menggenggam profesi kesehatan, sangat menguntungkan di Indonesia. Terutama di pedesaan dan daerah-daerah terpencil. Di sana menjanjikan ladang kemakmuran ekonomi. Berstatus pemula tidak menjadi persoalan. Padahal untuk profesi lainnya, setengah mati perjuangannya. Jangankan merambat, bergerak saja tidak. Dengan kata lain, hanya orang kesehatan yang ‘malas’ jika sampai mereka tidak dapat memperoleh pekerjaan. Yang saya katakan di sini adalah, terbatas pada seorang nurse, perawat dalam konteks profesional.
Orang-orang desa umumnya tidak memandang apakah perawat senior atau yunior. Selama yang bersangkutan memiliki pendekatan sosial bagus kepada masyarakat, ‘membanjirlah’ rejekinya. Bukan hanya itu, status gengsi mereka juga naik. Mereka seolah-olah diutamakan oleh masyarakat dalam banyak hal. Beberapa perawat profesional sadar akan hal ini. Tapi tidak sedikit yang tergelincir karena status ‘diutamakan’ ini.
Sayangnya, sebagian profesional kesehatan tidak menjalankan amanah dengan baik. Akibatnya, masyarakat yang menjadi korban iliterasi mereka terhadap dunia kesehatan. Perlindungan konsumen kesehatan belum memasyarakat, menambah beban. Yang miskin jadi tambah miskin, karena ‘diperas’ oleh petugas kesehatan dengan macam-macam alasan. Satu yang paling tidak bisa dibantah adalah: harga obat-obatan mahal. Parahnya lagi, jika alasannya obat impor.
Suatu hari, di musim hujan, di sebuah desa terpencil, sebagaimana biasa, saya melayani banyak pasien. Pagi-pagi sekali saya sudah berangkat mengunjungi mereka. Saya berjalan enam kilometer untuk mencapai salah satu rumah pasien, di lereng gunung. Lepas zuhur baru kembali.
Belum lama berselang, usai makan siang, ada lagi jemputan. Seorang laki-laki, tua, sekitar lima-enam puluh tahun umurnya. Saya katakan padanya, saya baru saja datang dari mengunjungi pasien di desa terpencil. Dia paham betul dengan kesibukan saya. Namun dia amat mengharapkan kesediaan saya untuk melihat anggota keluarganya yang sakit. Sang istri.
Biasanya, kalau badan lagi capek seperti yang saya rasakan waktu itu, emosi belum stabil benar. Mementingkan diri sendiri terkadang mengalahkan segalanya. Apalagi jika kita sudah merasa dibutuhkan, atau jelasnya, diutamakan. Ada kecenderungan gampang menyepelekan kepentingan orang lain.
Alhamdulillah, alam pegunungan yang sejuk di sekitar tempat saya tinggal sangat mendukung cepat redanya kelelahan dan kecemasan. Pak tua menunggu saya di ruang tamu, sambil minum kopi. Saya di belakang rumah, mencoba melemaskan otot-otot, sehabis jalan dua belas kilometer.
“Rumahnya di mana Pak?” tanya saya.
“Sumber Bening!” jawab Pak tua.
Sumber Bening? Jauh sekali! Berarti saya harus berjalan lagi enam belas kilometer, pulang pergi, hari ini.
Akan tetapi pada saat yang sama, ada segumpal harapan besar yang saya tunggu dengan mengunjungi pasien yang jauh ini. Harapan tersebut adalah: ‘pasti orang ini berani membayar saya mahal!’ Itulah. Wajar kan kita mengharap imbalan atas service yang kita berikan? Dalam Islam pun tidak haram hukumnya. Apalagi saya tidak matok harga.
“Baiklah Pak. Tunggu sebentar ya?” Akhirnya, saya setuju berangkat lagi.
Saya ikuti langkah-langkah kaki orang tua ini yang cepat sekali. Naik turun lereng gunung, berbelok-belok. Bak tidak mengenal lelah. Alhamdulillah kaki ini sudah terbiasa. Bahkan dari dulu pun saya senang jalan. Sampai-sampai mendiang Ibu saya bilang, “Kamu ini nggak kenal capek apa?”
Selain tas berisi obat-obatan oral, obat suntik, syringes, seperangkat pengukur suhu dan tekanan darah, senter, payung; sehelai sarung saya bawa. Perkiraan saya, belum tentu Maghrib nanti akan bisa sampai di rumah. Jika demikian, mungkin sekali akan menginap di rumah orang lain. Makanya kelengkapan tersebut saya tenteng semua. Apalagi sedang musim hujan. Any time, hujan turun tanpa kompromi.
Hampir dua jam kami berjalan kaki menuju rumah pasien ini. Rumahnya terbuat dari bahan bambu. Genteng dan gedheg-nya sudah jamuran. Di sekeliling rumah penuh pohon ketela. Sementara agak jauh dari rumahnya, pohon-pohon cengkeh menjulang, mulai berbunga. Sayangnya, waktu itu cengkeh sudah tidak lagi mahal. Jadi, meski ratusan pohon tersebut milik si kakek tua itu, saya kurang yakin beliau akan kaya karenanya.
“Silahkan masuk Pak!” Pak tua mempersilakan saya duduk di bangku tua. Kehitaman sudah. Sementara orangnya di dalam, mata saya berputar, mengelilingi seluruh ruang tamu. Tidak terdapat perabotan yang berarti, kecuali meja yang saya hadapi dan lemari kayu tua, serta amben di sudut ruangan. Beberapa gelinting tembakau berceceran di depan mata saya. Sunyi. Hingga Pak tua keluar.
“Mana ibu?” tanya saya tidak sabar. Mendung di luar, mulai merambat. Saya seperti dikejar-kejar sesuatu. Ingin cepat menyelesaikan tugas dan pulang!
“Di dalam. Jangan tergesa-gesa Pak! Istirahat dulu!” Pinta Pak tua sambil menyodorkan segelas kopi hitam pekat ke meja. Padahal saya tidak minum kopi.
“Saya tidak minum kopi Pak!” saya berusaha terus terang, meski mungkin pahit.
“Oh.... maaf!” Nada Pak tua menyesal tidak menanyakan dulu minuman kesukaan saya. Dia ambil kopi tersebut. Dan balik lagi ke belakang lagi.
‘Siapa yang bantu dia, sementara istrinya sakit?’ begitu batin saya bertanya-tanya. Belum terjawab pertanyaan ini, Pak tua sudah balik lagi menemui saya, dengan segelas teh di tangan kanannya.
“Ada air putih Pak?” Tanya saya. Terlambat. Beliau mengerti maksud saya. Maka dalam hitungan detik, dua gelas sudah tersaji di meja.
Sore itu, saya merasa ‘istimewa’. Dilayani apa yang saya inginkan dari tuan rumah. Dan yang paling penting, hari itu saya merasa ‘diutamakan’. Meski oleh orang miskin seperti yang sedang saya hadapi. Tidak masalah! Saya sudah terbiasa menjalani dan menghadapi kemiskinan ini. Rencana kerja jalan terus.
Sambil mencoba menerka berapa ongkos yang akan diberikan nanti kepada saya sesudah kunjungan ini, saya mengeluarkan beberapa alat-alat kedokteran yang saya bawa. Rasa gerah mulai pula reda. Hawa dingin terasa pula. Maklum, di pinggiran gunung. Nikmat sekali sore itu, sekalipun mendung mulai tebal. Yang saya khawatirkan satu: hujan!
Sesudah meneguk air putih, saya meminta izin untuk melihat si pasien. Istri Pak tua itu. Saya dipersilahkan masuk ke ruang belakang.
Di rumah bagian belakang tidak ada ruangan lain, kecuali dapur. Tidak pula ada perangkat masak-memasak semisal kompor. Hanya pawon yang apinya kelihatan baru saja dipadamkan. Di amben juga tidak ada orangnya.
Namun di remang-remang dekat pawon, karena agak gelap, saya tidak mengetahui bahwa istri Pak tua ini sedang berbaring di tanah. Beralas tikar coklat tua.
Saya jadi bertanya-tanya dalam hati. ‘Kenapa?’
Ternyata, begitu kami tiba, ibu tua ini rupanya sedang menanak air. Padahal dia sedang sakit. Tapi mengapa dia tidak berbaring di amben saja? Begitu tanyaku kepada suaminya.
“Nanti akan sulit turunnya!” jawab sang suami.
“Memangnya kenapa?”
“Ibu menderita luka bakar seluruh bagian bawah tubuhnya beberapa bulan lalu. Tapi tidak pernah kami bawa ke rumah sakit karena keterbatasan ekonomi kami. Sekarang sudah sembuh. Tapi ya... beginilah jadinya. Dia tidak mampu lagi meluruskan kedua kakinya. Otot-otot kedua kakinya sudah kaku, dan membengkok terus!” Astaghfirullah.
Kecelakaan tersebut terjadi di saat dia sedang membakar daun-daun cengkeh kering. Pada saat itu tidak ada orang yang dimintai pertolongan. Sang suami terlambat datang. Anak-anak mereka sudah berumah tangga, terpisah. Derita ibu tua itu pun berkepanjangan.
Maksud Pak tua menemui saya adalah agar mendapatkan obat pengurang rasa sakit yang kadang-kadang dirasakan istrinya.
‘Kalau begini. Bukan tugas saya!’ batin saya.
Kemudian saya berusaha menjelaskan bagaimana penanganan medis yang semestinya. Namun begitu, saya tetap menjalankan tanggung jawab saya sebagaimana yang mereka minta supaya mereka puas.
Sesudah melihat penderitaan mereka seperti itu. Saya menyesal sekali. Semula saya mengharapkan imbalan jasa. Semula saya menolak minum kopi. Semula saya juga minta air putih untuk minum. Sementara yang melayani saya berjalan dengan ngesot! Mereka mengutamakan saya, padahal saya segar bugar dan sehat. Mereka tua dan dalam kondisi ekonomi yang sulit.
Lebih menyesal lagi, dalam perjalanan pulang, mereka ternyata sudah memasukkan uang ke dalam tas saya. Dua ribu rupiah. Saya tidak mungkin mengembalikannya lagi. Kaki ini sudah jauh melangkah.
‘Ya Allah... Engkau telah memuliakan saya di depan sebagian umat-Mu yang pada dasarnya tidak pantas saya peroleh.’ Rentetan kata-kata inilah yang terngiang-ngiang selama perjalanan pulang.
Selama itu pula, konsentrasi saya tetap tertuju kepada Pak tua dan istrinya, yang kedua kakinya tertekuk terus. Saya pun tidak lagi merasakan apakah baju ini sudah basah oleh air hujan.
Kita terkadang memang lupa, bahwa diutamakan atau dimuliakan oleh manusia itu ada batas dan akhirnya. Seberapapun tinggi kedudukan dan jabatan kita, semisal presiden, akan berakhir dengan pensiun. Sesudah itu, pudarlah keutamaan dan kemuliaan kita di mata manusia.
Akan tetapi, apabila kita berharap keutamaan dan kemuliaan dari Allah Ta’ala, akan hakiki. Kemuliaan dan keutamaan hanyalah bagi Allah SWT semata, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, Surat al-Faathir:10,
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.”
Orang-orang desa umumnya tidak memandang apakah perawat senior atau yunior. Selama yang bersangkutan memiliki pendekatan sosial bagus kepada masyarakat, ‘membanjirlah’ rejekinya. Bukan hanya itu, status gengsi mereka juga naik. Mereka seolah-olah diutamakan oleh masyarakat dalam banyak hal. Beberapa perawat profesional sadar akan hal ini. Tapi tidak sedikit yang tergelincir karena status ‘diutamakan’ ini.
Sayangnya, sebagian profesional kesehatan tidak menjalankan amanah dengan baik. Akibatnya, masyarakat yang menjadi korban iliterasi mereka terhadap dunia kesehatan. Perlindungan konsumen kesehatan belum memasyarakat, menambah beban. Yang miskin jadi tambah miskin, karena ‘diperas’ oleh petugas kesehatan dengan macam-macam alasan. Satu yang paling tidak bisa dibantah adalah: harga obat-obatan mahal. Parahnya lagi, jika alasannya obat impor.
Suatu hari, di musim hujan, di sebuah desa terpencil, sebagaimana biasa, saya melayani banyak pasien. Pagi-pagi sekali saya sudah berangkat mengunjungi mereka. Saya berjalan enam kilometer untuk mencapai salah satu rumah pasien, di lereng gunung. Lepas zuhur baru kembali.
Belum lama berselang, usai makan siang, ada lagi jemputan. Seorang laki-laki, tua, sekitar lima-enam puluh tahun umurnya. Saya katakan padanya, saya baru saja datang dari mengunjungi pasien di desa terpencil. Dia paham betul dengan kesibukan saya. Namun dia amat mengharapkan kesediaan saya untuk melihat anggota keluarganya yang sakit. Sang istri.
Biasanya, kalau badan lagi capek seperti yang saya rasakan waktu itu, emosi belum stabil benar. Mementingkan diri sendiri terkadang mengalahkan segalanya. Apalagi jika kita sudah merasa dibutuhkan, atau jelasnya, diutamakan. Ada kecenderungan gampang menyepelekan kepentingan orang lain.
Alhamdulillah, alam pegunungan yang sejuk di sekitar tempat saya tinggal sangat mendukung cepat redanya kelelahan dan kecemasan. Pak tua menunggu saya di ruang tamu, sambil minum kopi. Saya di belakang rumah, mencoba melemaskan otot-otot, sehabis jalan dua belas kilometer.
“Rumahnya di mana Pak?” tanya saya.
“Sumber Bening!” jawab Pak tua.
Sumber Bening? Jauh sekali! Berarti saya harus berjalan lagi enam belas kilometer, pulang pergi, hari ini.
Akan tetapi pada saat yang sama, ada segumpal harapan besar yang saya tunggu dengan mengunjungi pasien yang jauh ini. Harapan tersebut adalah: ‘pasti orang ini berani membayar saya mahal!’ Itulah. Wajar kan kita mengharap imbalan atas service yang kita berikan? Dalam Islam pun tidak haram hukumnya. Apalagi saya tidak matok harga.
“Baiklah Pak. Tunggu sebentar ya?” Akhirnya, saya setuju berangkat lagi.
Saya ikuti langkah-langkah kaki orang tua ini yang cepat sekali. Naik turun lereng gunung, berbelok-belok. Bak tidak mengenal lelah. Alhamdulillah kaki ini sudah terbiasa. Bahkan dari dulu pun saya senang jalan. Sampai-sampai mendiang Ibu saya bilang, “Kamu ini nggak kenal capek apa?”
Selain tas berisi obat-obatan oral, obat suntik, syringes, seperangkat pengukur suhu dan tekanan darah, senter, payung; sehelai sarung saya bawa. Perkiraan saya, belum tentu Maghrib nanti akan bisa sampai di rumah. Jika demikian, mungkin sekali akan menginap di rumah orang lain. Makanya kelengkapan tersebut saya tenteng semua. Apalagi sedang musim hujan. Any time, hujan turun tanpa kompromi.
Hampir dua jam kami berjalan kaki menuju rumah pasien ini. Rumahnya terbuat dari bahan bambu. Genteng dan gedheg-nya sudah jamuran. Di sekeliling rumah penuh pohon ketela. Sementara agak jauh dari rumahnya, pohon-pohon cengkeh menjulang, mulai berbunga. Sayangnya, waktu itu cengkeh sudah tidak lagi mahal. Jadi, meski ratusan pohon tersebut milik si kakek tua itu, saya kurang yakin beliau akan kaya karenanya.
“Silahkan masuk Pak!” Pak tua mempersilakan saya duduk di bangku tua. Kehitaman sudah. Sementara orangnya di dalam, mata saya berputar, mengelilingi seluruh ruang tamu. Tidak terdapat perabotan yang berarti, kecuali meja yang saya hadapi dan lemari kayu tua, serta amben di sudut ruangan. Beberapa gelinting tembakau berceceran di depan mata saya. Sunyi. Hingga Pak tua keluar.
“Mana ibu?” tanya saya tidak sabar. Mendung di luar, mulai merambat. Saya seperti dikejar-kejar sesuatu. Ingin cepat menyelesaikan tugas dan pulang!
“Di dalam. Jangan tergesa-gesa Pak! Istirahat dulu!” Pinta Pak tua sambil menyodorkan segelas kopi hitam pekat ke meja. Padahal saya tidak minum kopi.
“Saya tidak minum kopi Pak!” saya berusaha terus terang, meski mungkin pahit.
“Oh.... maaf!” Nada Pak tua menyesal tidak menanyakan dulu minuman kesukaan saya. Dia ambil kopi tersebut. Dan balik lagi ke belakang lagi.
‘Siapa yang bantu dia, sementara istrinya sakit?’ begitu batin saya bertanya-tanya. Belum terjawab pertanyaan ini, Pak tua sudah balik lagi menemui saya, dengan segelas teh di tangan kanannya.
“Ada air putih Pak?” Tanya saya. Terlambat. Beliau mengerti maksud saya. Maka dalam hitungan detik, dua gelas sudah tersaji di meja.
Sore itu, saya merasa ‘istimewa’. Dilayani apa yang saya inginkan dari tuan rumah. Dan yang paling penting, hari itu saya merasa ‘diutamakan’. Meski oleh orang miskin seperti yang sedang saya hadapi. Tidak masalah! Saya sudah terbiasa menjalani dan menghadapi kemiskinan ini. Rencana kerja jalan terus.
Sambil mencoba menerka berapa ongkos yang akan diberikan nanti kepada saya sesudah kunjungan ini, saya mengeluarkan beberapa alat-alat kedokteran yang saya bawa. Rasa gerah mulai pula reda. Hawa dingin terasa pula. Maklum, di pinggiran gunung. Nikmat sekali sore itu, sekalipun mendung mulai tebal. Yang saya khawatirkan satu: hujan!
Sesudah meneguk air putih, saya meminta izin untuk melihat si pasien. Istri Pak tua itu. Saya dipersilahkan masuk ke ruang belakang.
Di rumah bagian belakang tidak ada ruangan lain, kecuali dapur. Tidak pula ada perangkat masak-memasak semisal kompor. Hanya pawon yang apinya kelihatan baru saja dipadamkan. Di amben juga tidak ada orangnya.
Namun di remang-remang dekat pawon, karena agak gelap, saya tidak mengetahui bahwa istri Pak tua ini sedang berbaring di tanah. Beralas tikar coklat tua.
Saya jadi bertanya-tanya dalam hati. ‘Kenapa?’
Ternyata, begitu kami tiba, ibu tua ini rupanya sedang menanak air. Padahal dia sedang sakit. Tapi mengapa dia tidak berbaring di amben saja? Begitu tanyaku kepada suaminya.
“Nanti akan sulit turunnya!” jawab sang suami.
“Memangnya kenapa?”
“Ibu menderita luka bakar seluruh bagian bawah tubuhnya beberapa bulan lalu. Tapi tidak pernah kami bawa ke rumah sakit karena keterbatasan ekonomi kami. Sekarang sudah sembuh. Tapi ya... beginilah jadinya. Dia tidak mampu lagi meluruskan kedua kakinya. Otot-otot kedua kakinya sudah kaku, dan membengkok terus!” Astaghfirullah.
Kecelakaan tersebut terjadi di saat dia sedang membakar daun-daun cengkeh kering. Pada saat itu tidak ada orang yang dimintai pertolongan. Sang suami terlambat datang. Anak-anak mereka sudah berumah tangga, terpisah. Derita ibu tua itu pun berkepanjangan.
Maksud Pak tua menemui saya adalah agar mendapatkan obat pengurang rasa sakit yang kadang-kadang dirasakan istrinya.
‘Kalau begini. Bukan tugas saya!’ batin saya.
Kemudian saya berusaha menjelaskan bagaimana penanganan medis yang semestinya. Namun begitu, saya tetap menjalankan tanggung jawab saya sebagaimana yang mereka minta supaya mereka puas.
Sesudah melihat penderitaan mereka seperti itu. Saya menyesal sekali. Semula saya mengharapkan imbalan jasa. Semula saya menolak minum kopi. Semula saya juga minta air putih untuk minum. Sementara yang melayani saya berjalan dengan ngesot! Mereka mengutamakan saya, padahal saya segar bugar dan sehat. Mereka tua dan dalam kondisi ekonomi yang sulit.
Lebih menyesal lagi, dalam perjalanan pulang, mereka ternyata sudah memasukkan uang ke dalam tas saya. Dua ribu rupiah. Saya tidak mungkin mengembalikannya lagi. Kaki ini sudah jauh melangkah.
‘Ya Allah... Engkau telah memuliakan saya di depan sebagian umat-Mu yang pada dasarnya tidak pantas saya peroleh.’ Rentetan kata-kata inilah yang terngiang-ngiang selama perjalanan pulang.
Selama itu pula, konsentrasi saya tetap tertuju kepada Pak tua dan istrinya, yang kedua kakinya tertekuk terus. Saya pun tidak lagi merasakan apakah baju ini sudah basah oleh air hujan.
Kita terkadang memang lupa, bahwa diutamakan atau dimuliakan oleh manusia itu ada batas dan akhirnya. Seberapapun tinggi kedudukan dan jabatan kita, semisal presiden, akan berakhir dengan pensiun. Sesudah itu, pudarlah keutamaan dan kemuliaan kita di mata manusia.
Akan tetapi, apabila kita berharap keutamaan dan kemuliaan dari Allah Ta’ala, akan hakiki. Kemuliaan dan keutamaan hanyalah bagi Allah SWT semata, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, Surat al-Faathir:10,
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.”






0 komentar:
Posting Komentar