Jangan Marah (3)

Solusi 

Di antara solusi penyembuhannya secara syar’i:
Menghindari sebab-sebab yang dapat menimbulkannya
Berzikir kepada Allah melalui lisan dan hati, karena marah bersumber dari syaithan, maka apabila disebut nama Allah, dia akan bersungut kerdil. Allah Ta’ala berfirman, artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’d: 28)
Mengingat pahala yang diberikan oleh Allah bila berhasil meninggalkan marah dan mengekangnya serta memberi ma’af kepada manusia.
Di antara nash-nash yang mendukung hal ini adalah firmanNya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Ali ‘Imrân: 133-134)
Mengingat implikasi negatifnya; sebab andai si pemarah melihat gambaran dirinya dalam kondisi marah tersebut, niscaya marahnya akan reda seketika, manakala merasa malu melihat raut wajahnya yang jelek dan (merasa) mustahil bentuk rupanya akan sedemikian.
Berpindah dari kondisi saat dia marah kepada kondisi yang lain, sebab marah akan hilang dengan sendirinya melalui perubahan kondisi dan perpindahan dari satu kondisi kepada kondisi yang lain.
Hendaknya seorang hamba ber-ta’awwudz (berlindung) kepada Allah dari as-syaithan ar-rajîm, sebab apabila seorang muslim berta’awwuz (kepada Allah) darinya, dia akan bersungut kerdil.
Indikasinya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâriy bahwasanya ada dua orang yang saling mencaci-maki di sisi Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, yakni salah seorang di antara keduanya mencaci yang lainnya dan rona marah telah terpancar dari wajahnya, lalu beliau n bersabda, artinya: “Sesungguhnya aku mengetahui suatu ucapan yang jikalau dia mengucapkannya pasti dia akan dapat menghilangkan apa yang dia dapati (alami saat ini-red) ; yakni bila dia mengucapkan: ‘ A’ûdzu billâhi minasy syaithânir rajîm’ “.

Renungan 

Seorang Mukmin tentu amat menginginkan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam hal ini, si penanya dalam hadits yang kita bahas ini memanfaatkan keberadaannya di sisi Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam yakni memintanya untuk memberikan nashihat yang dapat menjadi lentera baginya dalam menjalani seluruh sisa hidupnya.
Maka, tentunya kita dewasa ini, alhamdulilah, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyediakan untuk kita para ulama dan da’i, karenanya kita mesti berupaya seoptimal mungkin agar dapat memanfaatkan majlis-majlis, nashihat-nashihat serta petunjuk-petunjuk mereka.

0 komentar:

Posting Komentar